Sesakit sakitnya mengenangmu, seperih perihnya perjuanganku,
sepahit pahitnya kelakuanmu, setega apapun kamu dulu, serobeknya luka aku
karenamu, tapi itu semua sudah berlalu. Kamu, luka lamaku. Jadi selama dan
sedalam apapun ingatan itu kembali, sakitnya tidak sesakit dulu, perihnya tidak
seperih luka jatuhku yang masih basah lalu terkena air. Sakitnya hanya sakit
seperti terbentur meja untuk yang kedua kalinya. Perihnya tidak seperih
menginjak paku, perihnya hanya sebatas kuku.
Sekeras apapun teman-temanku dan teman-temanmu mengingatkan
semuanya, hanya butuh beberapa menit untuk merenung. Tidak selama mengheningkan
cipta sewaktu upacara bendera masih berlaku. Tidak selama merebus mie instan.
Tidak selama itu karena kamu hanya luka lamaku.
Aku berhasil membuktikan teori temanku ‘menutup luka lama
dengan luka baru’. Nyatanya, luka itu sembuh. Bodohnya, tumbuh yang baru lagi.
Seperti jamur, tidak aku cabut sampai ke akar. Menjalar.
Baru kemarin aku berhasil melupakan-nya karena-mu, tapi kemudian kamu berulah. Kamu hanya plester penutup luka lamaku yang robek karena aku terjatuh untuk yang kedua kalinya. Kamu seperti kekuatan yang membuatku berani bangkit berlari namun jatuh untuk yang kedua kali. Bisa dibilang, kamu sama saja. Kamu mampu membuatku lupa padanya, tapi tidak padamu. Kamu luka baruku.
Lalu apa aku harus terus menutup luka lama dengan luka baru?
Sehingga lukaku tidak ada habisnya. Dimana-mana. Sembuh satu, kemudian tumbuh
yang baru.