Jumat, 30 Januari 2015

LUKA LAMA VS LUKA BARU



Sesakit sakitnya mengenangmu, seperih perihnya perjuanganku, sepahit pahitnya kelakuanmu, setega apapun kamu dulu, serobeknya luka aku karenamu, tapi itu semua sudah berlalu. Kamu, luka lamaku. Jadi selama dan sedalam apapun ingatan itu kembali, sakitnya tidak sesakit dulu, perihnya tidak seperih luka jatuhku yang masih basah lalu terkena air. Sakitnya hanya sakit seperti terbentur meja untuk yang kedua kalinya. Perihnya tidak seperih menginjak paku, perihnya hanya sebatas kuku. 

Sekeras apapun teman-temanku dan teman-temanmu mengingatkan semuanya, hanya butuh beberapa menit untuk merenung. Tidak selama mengheningkan cipta sewaktu upacara bendera masih berlaku. Tidak selama merebus mie instan. Tidak selama itu karena kamu hanya luka lamaku.

Aku berhasil membuktikan teori temanku ‘menutup luka lama dengan luka baru’. Nyatanya, luka itu sembuh. Bodohnya, tumbuh yang baru lagi. Seperti jamur, tidak aku cabut sampai ke akar. Menjalar.

Baru kemarin aku berhasil melupakan-nya karena-mu, tapi kemudian kamu berulah. Kamu hanya plester penutup luka lamaku yang robek karena aku terjatuh untuk yang kedua kalinya. Kamu seperti kekuatan yang membuatku berani bangkit berlari namun jatuh untuk yang kedua kali. Bisa dibilang, kamu sama saja. Kamu mampu membuatku lupa padanya, tapi tidak padamu. Kamu luka baruku.


Lalu apa aku harus terus menutup luka lama dengan luka baru? Sehingga lukaku tidak ada habisnya. Dimana-mana. Sembuh satu, kemudian tumbuh yang baru.