Senin, 15 April 2019

KESEMPATAN PANGKAT DUA



Di siang hari yang ngantuk ini izinkan saya untuk menulis sebuah cerita yang pastinya biasa saja. Tidak lain dan tidak bukan, semuanya tentang suatu hubungan tapi kali ini dialami oleh teman dekat saya sendiri. Bahkan karena saking dekatnya, saya juga bisa merasakan hal yang sama. Saya beri judul KESEMPATAN PANGKAT DUA, karena teman saja ini sangat bersikap dewasa menghadapi setiap masalah dalam hubungannya. Padahal yang saya tahu, sebelumnya dia sangat tidak bisa menahan emosi dan mudah mengambil keputusan. 
Baiklah, selamat menyimak!☺

Dalam beberapa minggu terakhir atau kalau tidak salah sudah satu bulan lebih sedikit, teman saya bercerita bahwa hubungannya itu sedang  tidak baik baik saja. Pasangannya sedang ada di titik flat, tanpa tahu apa alasannya. Komunikasi pun bisa dibilang menjadi sangat kurang, padahal mereka sudah saling mengikat dan beberapa bulan kedepan akan di-sah-kan, Insha Allah. Teman saya ini mempunyai trauma di masa lalu yang sangat buruk, berkaitan dengan hubungan jarak jauh. Dimana dia selalu menjaga segalanya, tapi tidak dengan pasangannya. Kurang lebih 2 tahun menjalin hubungan jarak jauh, tapi harus putus dengan tidak baik-baik.

Hmm... meskipun saya kurang setuju untuk mengakhiri hubungan dan menurut saya berakhirnya suatu hubungan berarti  tidak ada  kondisi yang baik baik saja. Tapi semuanya balik lagi ke kalian, yang membaca. Ok lanjut.

Teman saya ini juga sangat baik menjaga segalanya ketika jarak memisahkan mereka....  Aduh, bahasanya lemas sekali ya! Hehe. Awalnya mereka sepakat bisa untuk menerima hubungan jarak jauh ini. Tapi ternyata dengan alasan ‘ternyata aku nggak bisa LDRan’ di tahun kedua, pasangannya main belakang. Bukan sakit tapi tak berdarah, sakit tapi ndak bisa dilupakan. Heheu. Trauma itulah yang membuat teman dekat saya ini selalu dihantui perasaan takut mengalami hal yang sama nantinya. Dan ternyata, benar saja.

Dalam beberapa minggu selama pasangannya merasa flat, komunikasi diantara mereka sangat renggang. Saya dan teman saya ini sempat cekcok menerka-nerka apa alasan pasangannya merasa flat dan bisa berubah sedrastis itu padahal beberapa bulan lagi mereka akan menikah. 
Berulang kali saya selalu bilang,

‘pasanganmu nggak mungkin kayak yang sebelumnya lah’

Dan berulang kali juga teman saya bilang

‘ya bisa aja ada orang ketiga masuk saat dia lagi ngerasa flat gini’

Selang beberapa jam kemudian tepatnya tengah malam, saya mendapati kabar bahwa ternyata benar pasangannya ‘main belakang’. Dan mirisnya lagi, teman saya  melihat langsung berupa foto yang men-tag pasangannya itu melalui stories instagram. Saya pun merasakan hal yang sama, hancur. Detik itu juga saya melihat teman saya sangat kecewa dan emosi, sedikit melampiaskan rasa kesalnya dengan memukul barang-barang disekitarnya, namun masih bisa saya tenangkan sampai teman saya ini sedikit tenang. Hebat, tegur saya.

‘Rasa sayang ini nggak hilang, tenang. Yang ada hanya rasa kecewa aja, kok. Yang begini ini udah biasa, ini juga nggak separah main belakang yg sebelumnya. Jadi masih bisa ditolerir’
Hebat, tegur saya lagi.

Keesokan harinya teman saya ini bertemu dengan mereka, si pasangannya berikut teman main belakangnya itu. Teman saya akhirnya menegaskan kepada saya, bahwa dalam suatu hubungan pasti ada titik dimana kita yang harus mengerti atau dimengerti. Maksudnya gini, semakin tinggi dan serius status dalam suatu hubungan maka semakin banyak juga ujian dan masalahnya. Kurang lebih simpelnya gini deh, kalau pasanganmu itu ternyata punya sifat yang sulit dirubah, kita sebagai pasangannya harus terus mau mengingatkan dan tetap menemani dalam proses perubahan itu, bukan justru meninggalkan begitu saja. Rasanya masih rumit ya? Hehe. Iya, sangat rumit. Teorinya saja rumit, bagaimana praktiknya ya? Mungkin kalimat sederhananya, terima dan temani atau tinggalkan saja pasanganmu itu. Jangan setengah-setengah. Jika tidak bisa menerima kondisi pasanganmu, tinggalkan sekarang juga. Berfikir saja ada yang lebih baik lagi dari pasanganmu itu, lalu pada akhirnya justru ternyata tidak ada yang sebaik dia. Atau, bercerminlah bahwa setiap pribadi mempunyai kekurangannya masing-masing dan yang harus dilakukan adalah saling melengkapi kekurangan (?) Atau justru kalimat barusan terlalu naif?

Mungkin dari setiap kita punya trauma di masa lalu yang terkadang masih menghantui di masa sekarang, atau bisa juga justru malah menghancurkan pribadi kita. Teman saya ini salah satunya, mungkin dia dulu adalah seorang yang sangat posesif terhadap pasangannya. Sampai suatu ketika pasangannya itu main belakang, dan membentuk dirinya menjadi seperti sekarang. Teman saya versi sekarang ini alhamdulillah-nya tidak menjadikan trauma di masa lalunya itu menjadi momok yang membuat dirinya menjadi lebih menakutkan lagi. Tapi justru menjadi pembelajaran dan bersikap lebih dewasa dalam menghadapi masalah di masa sekarang. Dan itu terbukti dalam menyikapi masalah, dengan tidak meninggalkan pasanagannya karena teman saya ini paham betul dialah yang tahu bagaimana  men-treat dengan baik. Tidak egois meninggalkan begitu saja. Teman saya ini justru malah mencoba menukar posisi, bagaimana jika perasaan  flat itu sedang ia rasakan. Mungkin juga dirinya akan goyah dan tergoda untuk main belakang. Teman saya ini mencoba memahami, ini adalah sebagian dari ujian dalam suatu hubungan ke jenjang yang lebih serius lagi. Hebat. Kedepannya, angin akan lebih kencang. Semoga tidak ada yang menyerah jatuh berguguran. Semoga kita dikuatkan untuk bisa saling menguatkan. Memberikan pengertian dan kesempatan yang tidak ada habisnya, walaupun perasaan bosan dan kesalahpahaman datang.

Rasanya segini dulu, saya akan akhiri daripada nanti kisah saya harus tumpah ruah juga disini. Lagipula tidak ada yang peduli.

Selamat tanggal lima belas di bulan April

Meski akal sehatmu hilang di tengah jalan

Dan kemungkinanmu kembali hanya secuil

Ke egoisanmu tidak akan membuatku bosan