Di siang hari yang
ngantuk ini izinkan saya untuk menulis sebuah cerita yang pastinya biasa saja. Tidak
lain dan tidak bukan, semuanya tentang suatu hubungan tapi kali ini dialami
oleh teman dekat saya sendiri. Bahkan karena saking dekatnya, saya juga bisa
merasakan hal yang sama. Saya beri judul KESEMPATAN PANGKAT DUA, karena teman
saja ini sangat bersikap dewasa menghadapi setiap masalah dalam hubungannya. Padahal
yang saya tahu, sebelumnya dia sangat tidak bisa menahan emosi dan mudah
mengambil keputusan.
Baiklah, selamat menyimak!☺
Dalam beberapa minggu terakhir atau kalau tidak salah sudah satu bulan lebih sedikit, teman saya bercerita bahwa hubungannya itu sedang tidak baik baik saja. Pasangannya sedang ada
di titik flat, tanpa tahu apa
alasannya. Komunikasi pun bisa dibilang menjadi sangat kurang, padahal mereka
sudah saling mengikat dan beberapa bulan kedepan akan di-sah-kan, Insha Allah. Teman
saya ini mempunyai trauma di masa lalu yang sangat buruk, berkaitan dengan
hubungan jarak jauh. Dimana dia selalu menjaga segalanya, tapi tidak dengan
pasangannya. Kurang lebih 2 tahun menjalin hubungan jarak jauh, tapi harus
putus dengan tidak baik-baik.
Hmm... meskipun saya
kurang setuju untuk mengakhiri hubungan dan menurut saya berakhirnya suatu hubungan
berarti tidak ada kondisi yang baik baik saja. Tapi semuanya
balik lagi ke kalian, yang membaca. Ok lanjut.
Teman saya ini juga
sangat baik menjaga segalanya ketika jarak memisahkan mereka.... Aduh, bahasanya lemas sekali ya! Hehe. Awalnya
mereka sepakat bisa untuk menerima hubungan jarak jauh ini. Tapi ternyata
dengan alasan ‘ternyata aku nggak bisa LDRan’ di tahun kedua, pasangannya main
belakang. Bukan sakit tapi tak berdarah, sakit tapi ndak bisa dilupakan. Heheu.
Trauma itulah yang membuat teman dekat saya ini selalu dihantui perasaan takut
mengalami hal yang sama nantinya. Dan ternyata, benar saja.
Dalam beberapa minggu
selama pasangannya merasa flat, komunikasi
diantara mereka sangat renggang. Saya dan teman saya ini sempat cekcok
menerka-nerka apa alasan pasangannya merasa flat
dan bisa berubah sedrastis itu
padahal beberapa bulan lagi mereka akan menikah.
Berulang kali saya selalu
bilang,
‘pasanganmu nggak mungkin kayak yang
sebelumnya lah’
Dan berulang kali juga
teman saya bilang
‘ya bisa aja ada orang
ketiga masuk saat dia lagi ngerasa flat
gini’
Selang beberapa jam
kemudian tepatnya tengah malam, saya mendapati kabar bahwa ternyata benar
pasangannya ‘main belakang’. Dan mirisnya lagi, teman saya melihat langsung berupa foto yang men-tag
pasangannya itu melalui stories instagram. Saya pun merasakan hal yang sama,
hancur. Detik itu juga saya melihat teman saya sangat kecewa dan emosi, sedikit
melampiaskan rasa kesalnya dengan memukul barang-barang disekitarnya, namun
masih bisa saya tenangkan sampai teman saya ini sedikit tenang. Hebat, tegur
saya.
‘Rasa sayang ini nggak
hilang, tenang. Yang ada hanya rasa kecewa aja, kok. Yang begini ini udah
biasa, ini juga nggak separah main belakang yg sebelumnya. Jadi masih bisa
ditolerir’
Hebat, tegur saya lagi.
Keesokan harinya teman
saya ini bertemu dengan mereka, si pasangannya berikut teman main belakangnya
itu. Teman saya akhirnya menegaskan kepada saya, bahwa dalam suatu hubungan
pasti ada titik dimana kita yang harus mengerti atau dimengerti. Maksudnya gini,
semakin tinggi dan serius status dalam suatu hubungan maka semakin banyak juga
ujian dan masalahnya. Kurang lebih simpelnya gini deh, kalau pasanganmu itu
ternyata punya sifat yang sulit dirubah, kita sebagai pasangannya harus terus
mau mengingatkan dan tetap menemani dalam proses perubahan itu, bukan justru
meninggalkan begitu saja. Rasanya masih rumit ya? Hehe. Iya, sangat rumit. Teorinya
saja rumit, bagaimana praktiknya ya? Mungkin kalimat sederhananya, terima dan
temani atau tinggalkan saja pasanganmu itu. Jangan setengah-setengah. Jika tidak
bisa menerima kondisi pasanganmu, tinggalkan sekarang juga. Berfikir saja ada
yang lebih baik lagi dari pasanganmu itu, lalu pada akhirnya justru ternyata
tidak ada yang sebaik dia. Atau, bercerminlah bahwa setiap pribadi mempunyai kekurangannya
masing-masing dan yang harus dilakukan adalah saling melengkapi kekurangan (?)
Atau justru kalimat barusan terlalu naif?
Mungkin dari setiap
kita punya trauma di masa lalu yang terkadang masih menghantui di masa
sekarang, atau bisa juga justru malah menghancurkan pribadi kita. Teman saya
ini salah satunya, mungkin dia dulu adalah seorang yang sangat posesif terhadap
pasangannya. Sampai suatu ketika pasangannya itu main belakang, dan membentuk
dirinya menjadi seperti sekarang. Teman saya versi sekarang ini
alhamdulillah-nya tidak menjadikan trauma di masa lalunya itu menjadi momok
yang membuat dirinya menjadi lebih menakutkan lagi. Tapi justru menjadi
pembelajaran dan bersikap lebih dewasa dalam menghadapi masalah di masa
sekarang. Dan itu terbukti dalam menyikapi masalah, dengan tidak meninggalkan
pasanagannya karena teman saya ini paham betul dialah yang tahu bagaimana men-treat dengan baik. Tidak egois
meninggalkan begitu saja. Teman saya ini justru malah mencoba menukar posisi,
bagaimana jika perasaan flat itu sedang ia rasakan. Mungkin juga
dirinya akan goyah dan tergoda untuk main belakang. Teman saya ini mencoba
memahami, ini adalah sebagian dari ujian dalam suatu hubungan ke jenjang yang
lebih serius lagi. Hebat. Kedepannya, angin akan lebih kencang. Semoga tidak
ada yang menyerah jatuh berguguran. Semoga kita dikuatkan untuk bisa saling
menguatkan. Memberikan pengertian dan kesempatan yang tidak ada habisnya,
walaupun perasaan bosan dan kesalahpahaman datang.
Rasanya segini dulu,
saya akan akhiri daripada nanti kisah saya harus tumpah ruah juga disini. Lagipula
tidak ada yang peduli.
Selamat tanggal lima
belas di bulan April
Meski akal sehatmu
hilang di tengah jalan
Dan kemungkinanmu
kembali hanya secuil
Ke egoisanmu tidak akan
membuatku bosan