Perkenalan kita terjadi karena waktu yang mempertemukan. Sudah
seharusnya aku mengenali semua teman kelasku, termasuk kamu. Seiring berjalannya
waktu, tanpa kita sadari semakin hari kita semakin dekat. Kemanapun aku pergi,
kamu ada. Kemanapun kamu pergi, akupun ada. Aku fikir… ini hanya sebuah
pertemanan yang sangat langka. Tidak hanya kita berdua, masih ada dua perempuan
lagi disana. Satu orang laki-laki dengan tiga orang perempuan.. itulah kita. Kemanapun
perginya, pasti kita berempat selalu ada. Hal apapun yang dirasa sangat berat
untuk diungkapkan, didepan kalianlah aku bisa mengungkapkannya. Segala resah
hilang rasanya ketika didekat kalian. Satu lelaki, dialah yang paling tampan
diantara kita berempat. Jelas, dia satu-satunya lelaki diantara kita. Hal-hal
konyol selalu kita lakukan, tertawa sepanjang hari yang selalu kita rasakan. Saat
itu, sepertinya persahabatan ini sangat indah….
Tetapi suatu ketika aku merasakan hal yang beda. aku mulai
salah menerjemahkan semua perhatian dan perlakuan sahabat tertampanku itu. Sepertinya
aku punya perasaan lain, entah apa yang
aku fikirkan sebelumnya. Akhirnya aku menceritakan ini kepada sahabat
perempuanku yang lain, dan diapun merasakan hal yang sama denganku. Kami berdua
sangat bingung, mengapa persahabatan ini berubah arti. Mungkin karena sahabat tertsmpsnku ini asyik dan mudah
membuat orang nyaman..Lalu teman perempuanku
yang terakhir memberikan masukan agar semua perasaan yang kami berdua
rasakan dihilangkan, karena takut persahabatan ini akan hancur. Kemudian kami
mendengarkan masukannya. Beberapa minggu terlewati, ternyata kami berdua
mendapat kabar bahwa sahabat tertampanku itu menjalin hubungan dengan sahabat
perempuanku tadi. Iya, sahabat perempuanku yang dulu sempat memberikan saran
itu. Saran, agar perasaan ini dihilangkan, tapi ternyata apa? Justru dialah
yang mengambil sahabat tertampanku itu. Entah main belakang, teman makan teman,
atau sebutan-sebutan yang lainnya.. pada saat itu, kita berempat terbagi dua,
berjauhan, berjarak, seperti tak mengenali satu sama lain.
Dua minggu terlewat sudah, terdengar kabar bahwa mereka
berdua sudah tidak lagi bersama, tapi masih tetap bersama dalam kata persahabatan.
Akhirnya kita berempat kembali menjadi kita berempat yang dulu ada.
“Sahabat tertampanku, ternyata kita hanya sebatas ‘sahabat’,ya…”
Perkenalan kita terjadi karena waktu yang mempertemukan. Sudah
seharusnya aku mengenali semua teman kelasku, termasuk kamu. Seiring berjalannya
waktu, tanpa kita sadari semakin hari kita semakin dekat. Kemanapun aku pergi,
kamu ada. Kemanapun kamu pergi, akupun ada. Aku fikir… ini hanya sebuah
pertemanan yang sangat langka. Tidak hanya kita berdua, masih ada dua perempuan
lagi disana. Satu orang laki-laki dengan tiga orang perempuan.. itulah kita. Kemanapun
perginya, pasti kita berempat selalu ada. Hal apapun yang dirasa sangat berat
untuk diungkapkan, didepan kalianlah aku bisa mengungkapkannya. Segala resah
hilang rasanya ketika didekat kalian. Satu lelaki, dialah yang paling tampan
diantara kita berempat. Jelas, dia satu-satunya lelaki diantara kita. Hal-hal
konyol selalu kita lakukan, tertawa sepanjang hari yang selalu kita rasakan. Saat
itu, sepertinya persahabatan ini sangat indah….
Tetapi suatu ketika aku merasakan hal yang beda. aku mulai
salah menerjemahkan semua perhatian dan perlakuan sahabat tertampanku itu. Sepertinya
aku punya perasaan lain, entah apa yang
aku fikirkan sebelumnya. Akhirnya aku menceritakan ini kepada sahabat
perempuanku yang lain, dan diapun merasakan hal yang sama denganku. Kami berdua
sangat bingung, mengapa persahabatan ini berubah arti. Mungkin karena sahabat tertsmpsnku ini asyik dan mudah
membuat orang nyaman..Lalu teman perempuanku
yang terakhir memberikan masukan agar semua perasaan yang kami berdua
rasakan dihilangkan, karena takut persahabatan ini akan hancur. Kemudian kami
mendengarkan masukannya. Beberapa minggu terlewati, ternyata kami berdua
mendapat kabar bahwa sahabat tertampanku itu menjalin hubungan dengan sahabat
perempuanku tadi. Iya, sahabat perempuanku yang dulu sempat memberikan saran
itu. Saran, agar perasaan ini dihilangkan, tapi ternyata apa? Justru dialah
yang mengambil sahabat tertampanku itu. Entah main belakang, teman makan teman,
atau sebutan-sebutan yang lainnya.. pada saat itu, kita berempat terbagi dua,
berjauhan, berjarak, seperti tak mengenali satu sama lain.
Dua minggu terlewat sudah, terdengar kabar bahwa mereka
berdua sudah tidak lagi bersama, tapi masih tetap bersama dalam kata persahabatan.
Akhirnya kita berempat kembali menjadi kita berempat yang dulu ada.
“Sahabat tertampanku, ternyata kita hanya sebatas ‘sahabat’,ya…”