Rabu, 20 Mei 2020

Bulan Ramadan, Bulan Gagasan : Mengganti Tradisi Saat Pandemi.

Bulan Maret 2020 merupakan mimpi buruk bagi banyak negara di dunia. Karena Covid-19 yang semula muncul di Wuhan Desember 2019 lalu kini telah menyebar luas di seluruh dunia. Pada tanggal 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Covid-19 telah mencapai tangkat pandemi karena tidak terkendalikan dan maasuk ke banyak negara di dunia termasuk Indonesia.

Tepat pada tanggal 2 Maret 2020 Presiden Joko Widodo mengumumkan secara resmi kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Dua warga negara Indonesia yang positif Covid-19 tersebut mengadakan kontak dengan warga negara Jepang yang datang ke Indonesia. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto pun menjelaskan bahwa sebelum ke Indonesia, warga negara Jepang ini bermukim di Malaysia sejak 14 Februari 2020 lalu dan terinfeksi Covid-19 disana.


(sumber : detik.com)

Sejak kasus pertama diumumkan, angka kasus positif Covid-19 terus mengalami kenaikan. Sebagai upaya menekan penyebarannya, Presiden Joko Widodo menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) dan telah ditandatangani oleh Presiden. Kebijakan itu pun menyebabkan perubahan sampai pada pola kehidupan, seperti adanya pembatasan interaksi sosial dengan beraktivitas dari rumah, menggunakan masker jika terpaksa harus keluar rumah, menerapkan karantina mandiri bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu, hingga karantina wilayah.

Selain menjalankan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadan, kita juga memiliki kegiatan yang sudah menjadi tradisi setiap tahunnya. Seperti ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa untuk berburu takjil, berbuka puasa bersama yang biasanya dijadikan untuk bersilaturahmi kembali dengan teman lama semasa sekolah atau teman kantor, melaksanakan salat tarawih berjamaah di masjid, juga mengadakan acara sahur on the road untuk membagikan makanan sahur kepada orang yang tidak mampu, sampai mudik ke kampung halaman.

Meski tahun ini berbeda karena adanya pandemi yang mengharuskan kita untuk di rumah saja, namun Insha Allah tidak mengurangi kualitas dan amalan di bulan Ramadan. Justru dengan tetap di rumah saja, akan melahirkan banyak gagasan untuk mengganti tradisi Ramadan selama pandemi. Terlebih lagi di era digital seperti sekarang hampir semua kegiatan yang dilakukan berhubungan dengan media online seperti berkomunikasi sampai memesan makanan.

Kita tetap bisa menjalankan ibadah puasa, salat tarawih bersama keluarga inti, juga menjalankan tradisi lain dengan cara yang berbeda dari biasanya. Ngabuburit tetap bisa dilakukan meski dirumah saja, melalui media online seperti menonton kajian online, streaming film, sampai mengasah keterampilan memasak sembari membuat makanan untuk berbuka puasa. Melalui video call conference seperti zoom, whatsapp, google meet dan aplikasi gratis lainnya bisa membantu kita untuk berbuka puasa bersama dengan teman dan sahabat lain juga memberi kemudahan untuk bersilaturahmi bertemu keluarga besar secara virtual sebagai pengganti mudik ke kampung halaman. Sampai kemudahan membayar zakat pun bisa kita temukan melalui layanan digital Dompet Dhuafa. Sehingga membayar zakat cukup dengan menggunakan ponsel dan kita tetap bisa berada di rumah saja.


(sumber : winnetnews.com)

Jika biasanya mengadakan sahur on the road sembari membagikan makanan kepada yang tidak mampu, di masa pandemi ini kita tetap bisa melakukan kebaikan dengan menggantungkan mie instan atau seplastik beras di pagar rumah. Kebaikan kecil ini pastinya akan melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya. Hal yang sama bisa dilakukan dengan menggantungkan baju-baju yang sudah tidak terpakai. Mungkin kita menganggapnya sudah tidak berguna, namun bisa jadi harta karun bagi orang lain. Ketika memesan makanan melalui ojek online pun, melebihkan makanan atau minuman untuk driver adalah cara melakukan kebaikan dengan dirumah saja.

Semoga banyak hikmah yang bisa dipetik di tengah pandemi ini, percayalah bahwa Allah SWT tidak mungkin membebani hamba-Nya dengan perkara di luar batas kemampuannya.


(sumber : ramadanvirfest on instagram)



signature-fonts

Kamis, 30 April 2020

Mewarisi Kebaikan


Bandung, selalu menjadi kota dengan sejuta kenangan. Selain karena kota kelahiranku, disana lah ibu mulai mengajarkan tentang banyak semangat dan kebaikan. Bagaimana tidak, ibu lah yang selalu memberi semangat di tiap jatuh bangunku sewaktu belajar sepeda dulu. Tidak pernah lelah memberi semangat agar terus bangun setiap kali jatuh, sampai akhirnya aku bisa mengendarai sepeda roda dua. Setiap malam juga selalu menemaniku belajar hingga peringkat satu selalu ku dapat.

Ibu sering mengajakku mengumpulkan baju-baju yang sudah tidak terpakai dan memberikan pada orang yang membutuhkan, walau seringkali orang itu tidak dikenalnya. Aku sering bertanya-tanya, untuk apa membantu orang yang tidak kita kenal. Ibu menjawab, “berbuat baik pada siapa saja, sama dengan berbuat baik pada diri sendiri”. Jika kebaikan itu tidak berbalik pada ibu, setidaknya datang padaku ketika ibu sedang tidak bisa membantu, lanjutnya. Kebaikan dan doa ibu tidak pernah ku ragukan sama sekali, terbukti saat ini aku bisa menjadi apa yang selalu di semogakan dalam doanya.

Di antara kebaikan yang tidak akan putus hingga di akhirat kelak adalah mentransfer ilmu yang bermanfaat kepada sekitar. Itulah salah satu alasan mengapa ibu ingin aku menjadi guru. Iya, aku seorang guru di salah satu Sekolah Menengah Atas di Jakarta. Melalui profesi ini, saatnya aku yang menularkan semangat dan kebaikan yang diwariskan ibu kepada muridku. Karena memiliki kebiasaan berbuat baik kepada sesama di tengah kondisi masyarakat yang semakin individualis seperti sekarang sangatlah penting.

Satu hari aku sempat bertanya pada muridku, bagaimana cara berbuat baik menurut mereka. Ada yang menjawab dengan memberikan senyuman, karena bisa menularkan aura positif bagi diri dan sekitarnya. Ada juga yang menjawab, membantu dengan membeli dagangan anak-anak di pinggir jalan. Sepele memang, tapi aku apresiasi karena tingkat kepekaan mereka masing tinggi. Mengabaikan kembalian uang receh lalu diberikan pada yang membutuhkan, sama-sama terlihat sedikit tapi tanpa disadari bisa menjadi sumber penghidupan bagi yang membutuhkan.

Banyak anak setuju jika berbuat baik adalah kewajiban sebagai manusia, terutama bagi umat muslim. Karena semua perbuatan akan kembali pada dirinya sendiri, sekecil apapun perbuatan itu walau terkadang kita tidak menyadarinya. Perbuatan baik akan memberikan kebaikan pula cepat atau lambat sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran :

“Barang siapa berbuat baik, sesungguhnya kebaikan itu untuk dirinya sendiri dan jika berbuat jahat maka kejahatan itu untuk dirinya sendiri” (QS Al Isra ayat 7)

Ada kebaikan yang bukan saja sebatas kewajiban seorang muslim tetapi juga mampu membangun kepekaan kita kepada sekitar, yaitu kebaikan berbagi dengan ber zakat. Seperti Ramadan tahun lalu, muridku dilibatkan secara langung dalam ber zakat, mulai dari pengumpulan, pengelolaan sampai menyalurkan kepada yang berhak. Masyarakat sekitar sekolah yang membutuhkan diberikan undangan untuk datang ke sekolah mengikuti acara tersebut. Dengan berzakat, murid melakukan hubungan sosial antara sesama manusia sekaligus hubungannya dengan Allah SWT.

Meski Ramadan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya karena wabah covid-19 melanda negeri sehingga kita dianjurkan untuk di rumah saja. Namun hal tersebut Insha Allah tidak mengurangi kualitas dan amalan di bulan Ramadan, kita tetap bisa menjalankan ibadah puasa bersama keluarga inti, bersilaturahmi, halal bihalal melalui media sosial atau video call, juga membayar zakat.


Kemudahan membayar zakat bisa di temukan melalui layanan digital Dompet Dhuafa. Salah satunya dengan fasilitas Donasi Mobile QR Code yang bekerja sama dengan iPaymu sehingga kita bisa melakukan donasi cashless, donasi tanpa uang tunai. Selain itu, Dompet Dhuafa juga menyediakan layanan Rekening Ponsel yang bekerja sama dengan Bank CIMB Niaga. Sehingga membayar zakat cukup dengan menggunakan ponsel dan kita tetap bisa berada di rumah saja.

Semoga banyak hikmah Ramadan yang bisa diambil di tengah ancaman covid-19 dengan tetap berbuat baik seperti tahun-tahun sebelumnya. Percayalah Allah SWT tidak mungkin membebani hamba-Nya dengan perkara di luar batas kemampuannya.