Bulan
Maret 2020 merupakan mimpi buruk bagi banyak negara di dunia. Karena Covid-19
yang semula muncul di Wuhan Desember 2019 lalu kini telah menyebar luas di
seluruh dunia. Pada tanggal 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
menyatakan bahwa Covid-19 telah mencapai tangkat pandemi karena tidak
terkendalikan dan maasuk ke banyak negara di dunia termasuk Indonesia.
Tepat
pada tanggal 2 Maret 2020 Presiden Joko Widodo mengumumkan secara resmi kasus
pertama Covid-19 di Indonesia. Dua warga negara Indonesia yang positif Covid-19
tersebut mengadakan kontak dengan warga negara Jepang yang datang ke Indonesia.
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto pun menjelaskan bahwa sebelum ke
Indonesia, warga negara Jepang ini bermukim di Malaysia sejak 14 Februari 2020
lalu dan terinfeksi Covid-19 disana.
(sumber : detik.com)
Sejak
kasus pertama diumumkan, angka kasus positif Covid-19 terus mengalami kenaikan.
Sebagai upaya menekan penyebarannya, Presiden Joko Widodo menetapkan kebijakan
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diatur dalam Peraturan Pemerintah
(PP) dan telah ditandatangani oleh Presiden. Kebijakan itu pun menyebabkan
perubahan sampai pada pola kehidupan, seperti adanya pembatasan interaksi
sosial dengan beraktivitas dari rumah, menggunakan masker jika terpaksa harus
keluar rumah, menerapkan karantina mandiri bagi individu dengan kondisi
kesehatan tertentu, hingga karantina wilayah.
Selain
menjalankan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadan, kita juga memiliki
kegiatan yang sudah menjadi tradisi setiap tahunnya. Seperti ngabuburit menjelang
waktu berbuka puasa untuk berburu takjil, berbuka puasa bersama yang biasanya
dijadikan untuk bersilaturahmi kembali dengan teman lama semasa sekolah atau
teman kantor, melaksanakan salat tarawih berjamaah di masjid, juga mengadakan
acara sahur on the road untuk membagikan makanan sahur kepada orang yang tidak
mampu, sampai mudik ke kampung halaman.
Meski
tahun ini berbeda karena adanya pandemi yang mengharuskan kita untuk di rumah
saja, namun Insha Allah tidak mengurangi kualitas dan amalan di bulan Ramadan.
Justru dengan tetap di rumah saja, akan melahirkan banyak gagasan untuk
mengganti tradisi Ramadan selama pandemi. Terlebih lagi di era digital seperti sekarang
hampir semua kegiatan yang dilakukan berhubungan dengan media online seperti
berkomunikasi sampai memesan makanan.
Kita
tetap bisa menjalankan ibadah puasa, salat tarawih bersama keluarga inti, juga
menjalankan tradisi lain dengan cara yang berbeda dari biasanya. Ngabuburit
tetap bisa dilakukan meski dirumah saja, melalui media online seperti menonton
kajian online, streaming film, sampai mengasah keterampilan memasak sembari
membuat makanan untuk berbuka puasa. Melalui video call conference seperti
zoom, whatsapp, google meet dan aplikasi gratis lainnya bisa membantu kita
untuk berbuka puasa bersama dengan teman dan sahabat lain juga memberi
kemudahan untuk bersilaturahmi bertemu keluarga besar secara virtual sebagai
pengganti mudik ke kampung halaman. Sampai kemudahan membayar zakat pun bisa
kita temukan melalui layanan digital Dompet Dhuafa. Sehingga membayar zakat
cukup dengan menggunakan ponsel dan kita tetap bisa berada di rumah saja.
Jika
biasanya mengadakan sahur on the road sembari membagikan makanan kepada yang
tidak mampu, di masa pandemi ini kita tetap bisa melakukan kebaikan dengan
menggantungkan mie instan atau seplastik beras di pagar rumah. Kebaikan kecil
ini pastinya akan melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya. Hal yang sama bisa
dilakukan dengan menggantungkan baju-baju yang sudah tidak terpakai. Mungkin
kita menganggapnya sudah tidak berguna, namun bisa jadi harta karun bagi orang
lain. Ketika memesan makanan melalui ojek online pun, melebihkan makanan atau
minuman untuk driver adalah cara melakukan kebaikan dengan dirumah saja.
Semoga
banyak hikmah yang bisa dipetik di tengah pandemi ini, percayalah bahwa Allah
SWT tidak mungkin membebani hamba-Nya dengan perkara di luar batas
kemampuannya.
(sumber : ramadanvirfest on instagram)



