Kamis, 30 April 2020

Mewarisi Kebaikan


Bandung, selalu menjadi kota dengan sejuta kenangan. Selain karena kota kelahiranku, disana lah ibu mulai mengajarkan tentang banyak semangat dan kebaikan. Bagaimana tidak, ibu lah yang selalu memberi semangat di tiap jatuh bangunku sewaktu belajar sepeda dulu. Tidak pernah lelah memberi semangat agar terus bangun setiap kali jatuh, sampai akhirnya aku bisa mengendarai sepeda roda dua. Setiap malam juga selalu menemaniku belajar hingga peringkat satu selalu ku dapat.

Ibu sering mengajakku mengumpulkan baju-baju yang sudah tidak terpakai dan memberikan pada orang yang membutuhkan, walau seringkali orang itu tidak dikenalnya. Aku sering bertanya-tanya, untuk apa membantu orang yang tidak kita kenal. Ibu menjawab, “berbuat baik pada siapa saja, sama dengan berbuat baik pada diri sendiri”. Jika kebaikan itu tidak berbalik pada ibu, setidaknya datang padaku ketika ibu sedang tidak bisa membantu, lanjutnya. Kebaikan dan doa ibu tidak pernah ku ragukan sama sekali, terbukti saat ini aku bisa menjadi apa yang selalu di semogakan dalam doanya.

Di antara kebaikan yang tidak akan putus hingga di akhirat kelak adalah mentransfer ilmu yang bermanfaat kepada sekitar. Itulah salah satu alasan mengapa ibu ingin aku menjadi guru. Iya, aku seorang guru di salah satu Sekolah Menengah Atas di Jakarta. Melalui profesi ini, saatnya aku yang menularkan semangat dan kebaikan yang diwariskan ibu kepada muridku. Karena memiliki kebiasaan berbuat baik kepada sesama di tengah kondisi masyarakat yang semakin individualis seperti sekarang sangatlah penting.

Satu hari aku sempat bertanya pada muridku, bagaimana cara berbuat baik menurut mereka. Ada yang menjawab dengan memberikan senyuman, karena bisa menularkan aura positif bagi diri dan sekitarnya. Ada juga yang menjawab, membantu dengan membeli dagangan anak-anak di pinggir jalan. Sepele memang, tapi aku apresiasi karena tingkat kepekaan mereka masing tinggi. Mengabaikan kembalian uang receh lalu diberikan pada yang membutuhkan, sama-sama terlihat sedikit tapi tanpa disadari bisa menjadi sumber penghidupan bagi yang membutuhkan.

Banyak anak setuju jika berbuat baik adalah kewajiban sebagai manusia, terutama bagi umat muslim. Karena semua perbuatan akan kembali pada dirinya sendiri, sekecil apapun perbuatan itu walau terkadang kita tidak menyadarinya. Perbuatan baik akan memberikan kebaikan pula cepat atau lambat sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran :

“Barang siapa berbuat baik, sesungguhnya kebaikan itu untuk dirinya sendiri dan jika berbuat jahat maka kejahatan itu untuk dirinya sendiri” (QS Al Isra ayat 7)

Ada kebaikan yang bukan saja sebatas kewajiban seorang muslim tetapi juga mampu membangun kepekaan kita kepada sekitar, yaitu kebaikan berbagi dengan ber zakat. Seperti Ramadan tahun lalu, muridku dilibatkan secara langung dalam ber zakat, mulai dari pengumpulan, pengelolaan sampai menyalurkan kepada yang berhak. Masyarakat sekitar sekolah yang membutuhkan diberikan undangan untuk datang ke sekolah mengikuti acara tersebut. Dengan berzakat, murid melakukan hubungan sosial antara sesama manusia sekaligus hubungannya dengan Allah SWT.

Meski Ramadan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya karena wabah covid-19 melanda negeri sehingga kita dianjurkan untuk di rumah saja. Namun hal tersebut Insha Allah tidak mengurangi kualitas dan amalan di bulan Ramadan, kita tetap bisa menjalankan ibadah puasa bersama keluarga inti, bersilaturahmi, halal bihalal melalui media sosial atau video call, juga membayar zakat.


Kemudahan membayar zakat bisa di temukan melalui layanan digital Dompet Dhuafa. Salah satunya dengan fasilitas Donasi Mobile QR Code yang bekerja sama dengan iPaymu sehingga kita bisa melakukan donasi cashless, donasi tanpa uang tunai. Selain itu, Dompet Dhuafa juga menyediakan layanan Rekening Ponsel yang bekerja sama dengan Bank CIMB Niaga. Sehingga membayar zakat cukup dengan menggunakan ponsel dan kita tetap bisa berada di rumah saja.

Semoga banyak hikmah Ramadan yang bisa diambil di tengah ancaman covid-19 dengan tetap berbuat baik seperti tahun-tahun sebelumnya. Percayalah Allah SWT tidak mungkin membebani hamba-Nya dengan perkara di luar batas kemampuannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar