Bandung,
selalu menjadi kota dengan sejuta kenangan. Selain karena kota kelahiranku,
disana lah ibu mulai mengajarkan tentang banyak semangat dan kebaikan.
Bagaimana tidak, ibu lah yang selalu memberi semangat di tiap jatuh bangunku sewaktu
belajar sepeda dulu. Tidak pernah lelah memberi semangat agar terus bangun
setiap kali jatuh, sampai akhirnya aku bisa mengendarai sepeda roda dua. Setiap
malam juga selalu menemaniku belajar hingga peringkat satu selalu ku dapat.
Ibu
sering mengajakku mengumpulkan baju-baju yang sudah tidak terpakai dan
memberikan pada orang yang membutuhkan, walau seringkali orang itu tidak
dikenalnya. Aku sering bertanya-tanya, untuk apa membantu orang yang tidak kita
kenal. Ibu menjawab, “berbuat baik pada siapa saja, sama dengan berbuat baik
pada diri sendiri”. Jika kebaikan itu tidak berbalik pada ibu, setidaknya
datang padaku ketika ibu sedang tidak bisa membantu, lanjutnya. Kebaikan dan
doa ibu tidak pernah ku ragukan sama sekali, terbukti saat ini aku bisa menjadi
apa yang selalu di semogakan dalam doanya.
Di
antara kebaikan yang tidak akan putus hingga di akhirat kelak adalah
mentransfer ilmu yang bermanfaat kepada sekitar. Itulah salah satu alasan
mengapa ibu ingin aku menjadi guru. Iya, aku seorang guru di salah satu Sekolah
Menengah Atas di Jakarta. Melalui profesi ini, saatnya aku yang menularkan
semangat dan kebaikan yang diwariskan ibu kepada muridku. Karena memiliki
kebiasaan berbuat baik kepada sesama di tengah kondisi masyarakat yang semakin
individualis seperti sekarang sangatlah penting.
Satu
hari aku sempat bertanya pada muridku, bagaimana cara berbuat baik menurut
mereka. Ada yang menjawab dengan memberikan senyuman, karena bisa menularkan
aura positif bagi diri dan sekitarnya. Ada juga yang menjawab, membantu dengan
membeli dagangan anak-anak di pinggir jalan. Sepele memang, tapi aku apresiasi
karena tingkat kepekaan mereka masing tinggi. Mengabaikan kembalian uang receh
lalu diberikan pada yang membutuhkan, sama-sama terlihat sedikit tapi tanpa
disadari bisa menjadi sumber penghidupan bagi yang membutuhkan.
Banyak
anak setuju jika berbuat baik adalah kewajiban sebagai manusia, terutama bagi
umat muslim. Karena semua perbuatan akan kembali pada dirinya sendiri, sekecil
apapun perbuatan itu walau terkadang kita tidak menyadarinya. Perbuatan baik
akan memberikan kebaikan pula cepat atau lambat sebagaimana disebutkan dalam
Al-Quran :
“Barang
siapa berbuat baik, sesungguhnya kebaikan itu untuk dirinya sendiri dan jika
berbuat jahat maka kejahatan itu untuk dirinya sendiri” (QS Al Isra ayat 7)
Ada
kebaikan yang bukan saja sebatas kewajiban seorang muslim tetapi juga mampu
membangun kepekaan kita kepada sekitar, yaitu kebaikan berbagi dengan ber
zakat. Seperti Ramadan tahun lalu, muridku dilibatkan secara langung dalam ber
zakat, mulai dari pengumpulan, pengelolaan sampai menyalurkan kepada yang
berhak. Masyarakat sekitar sekolah yang membutuhkan diberikan undangan untuk
datang ke sekolah mengikuti acara tersebut. Dengan berzakat, murid melakukan
hubungan sosial antara sesama manusia sekaligus hubungannya dengan Allah SWT.
Meski
Ramadan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya karena wabah covid-19 melanda
negeri sehingga kita dianjurkan untuk di rumah saja. Namun hal tersebut Insha
Allah tidak mengurangi kualitas dan amalan di bulan Ramadan, kita tetap bisa menjalankan
ibadah puasa bersama keluarga inti, bersilaturahmi, halal bihalal melalui media
sosial atau video call, juga membayar zakat.
Kemudahan
membayar zakat bisa di temukan melalui layanan digital Dompet Dhuafa. Salah
satunya dengan fasilitas Donasi Mobile QR Code yang bekerja sama dengan iPaymu
sehingga kita bisa melakukan donasi cashless, donasi tanpa uang tunai. Selain
itu, Dompet Dhuafa juga menyediakan layanan Rekening Ponsel yang bekerja sama
dengan Bank CIMB Niaga. Sehingga membayar zakat cukup dengan menggunakan ponsel
dan kita tetap bisa berada di rumah saja.
Semoga
banyak hikmah Ramadan yang bisa diambil di tengah ancaman covid-19 dengan tetap
berbuat baik seperti tahun-tahun sebelumnya. Percayalah Allah SWT tidak mungkin
membebani hamba-Nya dengan perkara di luar batas kemampuannya.
